Langsung ke konten utama

Batas

Aku tidak pernah peduli,
Meski aku telah jatuh berkali kali.

Kupasang doa setiap waktu kepada Tuhan ku, memohon agar rinduku juga sampai kepadamu.

Aku pernah jatuh sejatuh jatuhnya, ku abaikan demi rindu ini yang berkali kali mencoba membunuhku.

Dimana kamu sekarang?
Seenaknya pergi setelah membuat hati yang kemarin di tumbuhi bunga bunga indah lalu kau bakar hangus begitu saja?

Apakah aku harus menjadi mati agar kamu peduli?

Kemana kamu saat ini? Seperti angin yang melupakan tahan kering yang dilewatinya kemarin.

Dimana kamu saat ini? Seperti awan yang tidak pernah nampak sama dari sedetik sebelumnya.

Kamu anggap apa aku yang setiap pagi dan malam selalu menahan rindu yang saat ini nyaris membunuhku?

Apakah aku harus merasakan berjuang sendirian lagi, padahal kemarin kamu begitu mahir untuk mengobati luka.

Kini kamu buatkan luka baru diatas luka yang kamu obati dulu.

Apakah kamu meragu? Ah.. mungkin kamu tidak pernah peduli. Sekuat apapun aku berlari mengejar kamu, pada akhirnya kamu sematkan duri duri agar perihku berlari, langkahku terhenti.

Kamu, mungkin harus aku sudahi rindu setengah mati yang kunikmati sendiri ini.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

radio untuk bapak

walau saya tidak punya banyak kenangan indah tentang kita entah kenapa, saya anggap itu tidak begitu penting.. yang penting sekarang adalah bagaimana saya membuat kesan yang indah antara kita untuk saat ini maap, saya tidak punya begitu ganyak waktu untuk kita bersama.. rasanya, untuk berpelukan saja saya belum siap, masih merasa enggan.. tapi saya yakin, akan ada waktu untuk kita merasa sangat dekat.. saya tau, kesepian anda.. saya tau, bagaimana menderitanya anda.. hanya sebatas tau, belum merasakan.. ingin sekali saya warnai hari-hari anda.. memberi suara-suara pengusir sepi mungkin hanya sebuah radio.. tapi semoga bisa menemani hari dan mengusir sepi.. hanya sebatas itu untuk sekarang..

17 feb 2017

Ijinkan aku untuk berpuisi, sekedar membuat barisan kata kata perwakilan isi hati. Ijinkan aku sendiri, sejenak saja tanpa tatapan buruan khas-mu yang selalu berhasil memangsaku. Ijinkan aku untuk menangis terisak isaknya, bersedih sesedih sedihnya lalu aku akan tertawa kembali karna ceriamu. Ijinkan aku bercerita tentang aku dan duniaku yang mungkin membosankan bagimu. Ijinkan aku sekedar menyapa teman lamaku, atau sekedar membalas sapaannya dan membagi kebahagiaan dengan mereka. Ijinkan aku menjadi diriku sendiri, yang selalu tampak ceria namun senang menyendiri, berkata kasar namun tidak berhati dengki 17 feb 2017

aku masih abu

Sore ini turun hujan. sudah sekian lama hujan tidak turun belakangan waktu ini. hujan, berarti dengan terpaksa aku harus memesan gocar/grabcar menuju rumah dari stasiun rawabuntu. driver sore ini menyetel lagu Audy. cukup langka dalam ukuran selera, seorang laki2 dengan umur diatas 50tahun (kelihatannya) menyetel lagu2 Audy dan berdendang dalam denguman pelan, tapi tetap bisa aku dengar. sore dengan hujan adalah perpaduan sempurna dalam menciptakam macet yang berkepanjangan. dalam macet dan hujan, si bapak driver mengendarai mobilnya dengan sedikit kesal. "tskk, macet banget" gumamnya entah berguman sendiri atau menunggu respon yang sama padaku yang duduk canggung dibelakangnya sambil melihat kearah jendela samping. disela2 suara air yang jatuh di kap mobil, entah kenapa sore ini begitu terasa lambat. isi kepala bagaikan bisokop yang memutar potongan2 film usang. entah apa tujuannya semua itu. hanya membuat aku mengingat hal2 yang sebagian ingin aku lupakan dan kucoba kubur...