Langsung ke konten utama

Postingan

melankolia

Mencari arah agar terarah.  Kita tak harus bertemu, sebenarnya.  Aku tak kuat melihat beban dipunggungmu.  Pasti amat sangat menyiksa dan ngilu.  Tapi entah apa jadinya jika kita tak saling bertemu dulu.  Entah aku yang menjadi lemah nantinya, atau kamu tak akan pernah merasa pilu.  Hei.  Jangan banyak mengenang masa lalu ya.  Itu sungguh buang buang waktu.  Percayalah padaku.  Sekarang memang aku suka sedikit memaksa. Mungkin ternyata ini tabiyat asliku.  Tapi aku tetap tidak berusahan menjadi yang lain dari diriku.  Hanya berupaya mencari sang aku yang lain pada diri ini. Jangan benci aku ya. Karna kebencian yang mendalam lebih buas daripada kerinduan yang tak terbalas. Ia bisa menghancurkan hatimu. Lalu hatimu tumbuh lagi. Lalu hancur lagi dan tumbuh lagi, lalu hancur.. lagi Kebencian menciptakan memori yang menakutkan. Semua terlihat tak ada yang mendukungmu. Semua terlihat salah dan payah...

asa

Saat ini sedang tidak pandai menerka. Menerka membuat hati berbunga2 juga curiga. Jangankan menerka apa maksud Tuhan yang Maha Juara. Menerka manusia saja, sungguh tidak kuasa. Kalo kata mereka, Tuhan memberikan penderitaan hari ini, supaya besok kita menjadi lebih kuat.. Ha..ha.. Besoknya ini entah kapan datangnya. Tuhan bisa salah gak, sih? Kalo bisa, mungkin saat ini Tuhan sedang salah. Ah kan.. jadi menerka Tuhan. Tapi sungguh.. apapun tujuanMu. Tetapkan selalu hati ini dijalanMu. Juga.. Mohon kuatkan kakiku untuk melangkah dan melewati jalan yang telah Kau ciptakan untuk orang2 kuat seperti aku. Haah.. menerka lagi.

Amin

Ya oloh.. punya bos lucu lucu banget. hahahahahahaha kesan pertama di kantor ini adalah. buset.. tuir tuir amet yak. sekalinya ada yang ganteng eh udah merit. T_____T tapi hampir 2 minggu berlalu. kelakuan aslinya mulai pada keliatan. dari si bapak A yang doyan makan dan goyang2 dengan badan tambunnya. si bapak B yang ganteeeeeeeng banget dan mirip seseorang nun jauh disana (hai~) yang ngomongnya jowooooo pisan padahal mukanya chinese (ganteng sumpeh) si bapak C yang gak bisa diem. dan kalo ngomong kayak gak ada filternya. si bapak D yang doyang godain dan selalu menawarkan tumpangan pulang. gak tau aja kosan gw tinggal ngesot dari kantor. si bapak E yang baru punya anak tapi centilnya kebangetan dan ngeselin abis. si bapak D yang selalu mendengarkan segala curahan hati (tengkyu bos) dan mereka semua kerjaan setiap malamnya adalah nentangin gw maen DUEL OTAK. HAHAHAHAHAHAHA Semoga selalu menyenangkan seperti sekarang ini yaa.. amiin 

IMYAILYBYJDK

seolah ada, tapi tiada. dia hadir, tapi tidak terasa. nyata, tapi tak bermakna. .. tak pernah berjanji, tapi membuat peduli. meneduhkan, tapi membuat gaduh sebentar, tapi membuat luka (: mari mulai tidak memberi hati. mari mulai tidak peduli. mari mulai tidak berharap kembali.

tapi sungguh..

Mereka selalu bercerita tentang masa sedih yang berhasil di lewati. Tapi sungguh.. aku tidak peduli.  Mereka selalu berkata akan ada pengganti.  Tapi sungguh.. aku tidak menanti.  Mereka selalu bertanya kenapa masih sendiri.  Tapi sungguh.. aku ingin mandiri.  Mereka selalu menggoda dan berbaik hati. Tapi sungguh.. aku tidak tertarik lagi.  Mereka selalu berkata masih banyak yang setia dan menawarkan diri. Tapi sungguh.. saat ini aku benci lelaki.  

jangan tanyakan

Jangan tanyakan. Aku masih ingin tubuh itu. Aku masih ingin senyum itu. Aku masih ingin hangat peluk itu. Aku masih ingin dia. Dia. Yang selalu tersenyum jika bertemu. Yang selalu tertawa untuk meluruhkan lara. Yang selalu menyemangati ketika nyaris menyerah. Yang selalu mengucap sayang karena merindu. Yang selalu bersemangat ketika bercerita. Yang selalu tidak pernah bosan menghabiskan waktu berlalu. Yang selalu ada dan setia menunggu jam pulang kantor. Yang selalu ada aku di matanya. Aku ingin dia saat itu. Dia yang dulu. Dia yang saat itu kekasihku. Dia yang dulu hanya ada aku di harinya. Ahh.. sepertinya, aku harus menunggu agak lama untuk bertemu dengannya lagi. Mungkin dengan raga yang berbeda tapi dengan rasa yang sama dan bertahan sampai akhir dari raga. Aku bisa menunggu. Asal jangan tanyakan kenapa. Kenapa harus dia. Dia yang dulu.