Langsung ke konten utama

Postingan

tapi sungguh..

Mereka selalu bercerita tentang masa sedih yang berhasil di lewati. Tapi sungguh.. aku tidak peduli.  Mereka selalu berkata akan ada pengganti.  Tapi sungguh.. aku tidak menanti.  Mereka selalu bertanya kenapa masih sendiri.  Tapi sungguh.. aku ingin mandiri.  Mereka selalu menggoda dan berbaik hati. Tapi sungguh.. aku tidak tertarik lagi.  Mereka selalu berkata masih banyak yang setia dan menawarkan diri. Tapi sungguh.. saat ini aku benci lelaki.  

jangan tanyakan

Jangan tanyakan. Aku masih ingin tubuh itu. Aku masih ingin senyum itu. Aku masih ingin hangat peluk itu. Aku masih ingin dia. Dia. Yang selalu tersenyum jika bertemu. Yang selalu tertawa untuk meluruhkan lara. Yang selalu menyemangati ketika nyaris menyerah. Yang selalu mengucap sayang karena merindu. Yang selalu bersemangat ketika bercerita. Yang selalu tidak pernah bosan menghabiskan waktu berlalu. Yang selalu ada dan setia menunggu jam pulang kantor. Yang selalu ada aku di matanya. Aku ingin dia saat itu. Dia yang dulu. Dia yang saat itu kekasihku. Dia yang dulu hanya ada aku di harinya. Ahh.. sepertinya, aku harus menunggu agak lama untuk bertemu dengannya lagi. Mungkin dengan raga yang berbeda tapi dengan rasa yang sama dan bertahan sampai akhir dari raga. Aku bisa menunggu. Asal jangan tanyakan kenapa. Kenapa harus dia. Dia yang dulu.

racun sialan

Kemilaumu halangi hari esok ku.  Merusak kornea mataku.  Meracuni pikiranku.  Membuat bodoh otakku.  Semakin lama semakin mirip dengan racun.  Bisa membunuhku.  Memberikan sakit disetiap teguk.  Aku jangan sampai over dosis.  Nanti bisa menginap di rumah sakit. Ahh.. aku menelah racun sialan ini. 90% tubuhku di hinggap bakteri.  Dokterku sepertinya terlambat menghampiri.  Apakah sesaat lagi aku akan mati? . . . Dokterku belum juga datang.  Mungkin aku akan mati nanti petang.

tanda tanya

Tuhan. . Apa yang harus saya lakukan? Menjauh semakin mencari. Biasa saja tapi tetap menanti. Menghilang tak bisa bersembunyi. Sampai kapan luka ini menganga meminta pedih? Sampai kapan lara ini meracuni urat nadi? Sampai kapan rindu ini menggerogoti isi hati?

Gunung Lembu

Akhirnya, gw berangkat ke Gunung Lembu juga setelah beberapa saat kurang yakin dengan kondisi fisik gw yang akhir-akhir ini melemah karna hilang napsu makan. Kami ngumpul di jakarta jam 8 malem. Makan malem dulu semuanya dan pas jam 9 berangkat ke Purwakarta, kita menuju Gunung Lembu. Perkiraannya, dari Jakarta ke Purwakarta memakan waktu kurang lebih 2 jam. Dan ke daerah dekat Gunung Lembu memakan waktu 1 jam. 3 jam total perjalanan dari Jakarta ke Purwakarta. Tapiiiiii ternyata si Papi bawa kudanya cepet dan lancar. Jadi Alhamdulillah baru 1,5 jam udah nyampe jakarta dan sekitaran 40 menitan nyampe di basecame Gunung Lembu. Nyampe sana langsung persiapan ini itu. Registrasi dan beli2 minum. Hingga jam 12.10 malam kita nanjak ke puncak Lembu. Gunung Lembu menurut gw, lebih kaya kebon gitu sih. Kebon bambu. Tapi warga disana kayaknya rajin2 jadi jalan menuju puncak jelas dan udah dibikin undakan, ada talinya dan ada pegangan dari bambu. Pokoknya di buat semudah mungkin. Tru...

lembu gak ya?

Muntah lagi. Dan lagi2 yang di muntahin air lagi. Karna emang seharian gak banyak makan. Lemas lagi. Dan lagi2 musti kerja ini itu lagi. Karna nanti pagi mau pindah kosan. Rindu lagi. Dan lagi2 bikin nyeri. Karena hati iri dan lambung perih. Yah. Gimana mau naik gunung lembu nih? Yang ada nanti malah jadi sakit. *berpikir keras* Besok harus minum obat dan tobat. Bismillah pasti gemukan lagi 💪💪💪💪